Saat ini, perkembangan teknologi semakin canggih. Apapun yang dulunya dikerjakan secara manual, sekarang sudah banyak dibuatkan menjadi sistem. Contohnya saja sistem jual beli. Sudah banyak website yang memberikan layanan jual beli secara online. Sehingga orang tidak perlu lagi datang langsung ke toko untuk mencari barang yang akan di beli. Hebat sekali bukan. Disamping menghemat tenaga juga menghemat waktu. Kita hanya tinggal membuka website jual beli online, lalu cari barang yang di inginkan, hubungin admin, pesan, dan tinggal tunggu barang datang. Tapi ya dari sekian keunggulan, pasti ada sisi lemahnyakan. Ya salah satunya ada penambahan ongkos kirim, durasi pengiriman, dan yang sangat harus diperhatikan yaitu penipuan. Hati2 teman !
Kembali ke judul, Pengembangan Pemilu Elektronik. Disini kita punya beberapa rumusan masalah. Pertama, Apa itu Pengembangan Pemilu Elektronik ? Kedua, Kenapa perlu Pengembangan Pemilu Elektronik ? Ketiga, Bagaimana Pengembangan Pemilu Elektronik tersebut ? Keempat, Bagaimana dengan permodelan sistemnya ? Kelima, Apakah dibutuhkan sebuah tim untuk pengembangan sistem ini ? Keenam, Apakah sistem ini aman ?
Apa itu Pengembangan Pemilu Elektronik ?
Pada saat ini, pemilu di Indonesia masih menggunakan sistem manual, dengan cara coblos atau centang, dan masih menggunakan kertas. Pengembangan Pemilu Elektronik ini dirancang agar pemilu di Indonesia tidak lagi menggunakan kertas, tetapi menggunakan sistem yang dirancang berbasis desktop yang dapat di operasikan dengan mudah dan cepat.
Walaupun pemilu ini sudah menggunakan system elektronik, tetap menjunjung tinggi asas pemilu di Indonesia, LUBERJURDIL. Sistem ini akan dirancang sedemikian rupa agar asas tersebut tetap terpenuhi dan tidak melanggar undang-undang tentang pemilu.
Kenapa perlu Pengembangan Pemilu Elektronik ?
Kenapa ? Karena penggunaan kertas sudah tidak efektif lagi pada saat ini. Untuk pemilihan presiden tahun 2014, total DPT(Daftar Pemilih Tetap) adalah 190.307.134 orang. Perorangannya butuh kertas pemilu masing-masing toh. Asumsikan 1 lembar kertas pemilu harganya Rp 1500,00 dikalikan sebanyak jumlah DPT tadi. Jumlahnya adalah Rp 285.460.701.000,00 hampir mendekati 300 miliyar. Itu hanya untuk kertas. Setelah pemilu dan pemungutan suara selesai, kertasnya di apakan ? Di bakar ? Waw, hebat, Indonesia bakar uang 300 miliyar tiap 5 tahun, super sekali. Itulah kenapa perlu dikembangkan sistem ini, hanya dengan memindai dana pada kertas, kita sudah menghemat dana 300 miliyar dan dapat di alihkan kepada dana yang lainnya.
Bagaimana Pengembangan Pemilu Elektronik tersebut ?
Pengembangan Pemilu Elektronik tersebut meliputi berbagai hal. Yang pertama dan pastinya dalam hal media. Saat ini media yang digunakan adalah media kertas. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, penggunaan kertas sangatlah tidak efektif. Untuk itu kita membutuhkan sebuah media elektronik berupa PC yang sudah di installkan sistem pemilu tersebut. Memang tampaknya PC itu mahal, tetapi dapat digunakan berkelanjutan selama PC tersebut tidak rusak. Di sistem tersebut sudah ditanamkan database penduduk indonesia yang terdapat di ktp. Sehingga rakyat indonesia bebas memilih dimanapun, dan kuota golput akan menurun.
Bagaimana dengan permodelan sistemnya ?
Permodelan sistem sangatlah berpengaruh terhadap pengembangan sistem. Karnanya, kita harus pandai menentukan model apa yang akan kita gunakan. Untuk sistem ini, menurut saya lebih baik digunakan permodelan spiral. Kenapa ? Karena sistem ini memiliki ruang lingkup yang luas. Sehingga resiko yang dimiliki besar. Untuk itu kita membutuhkan analisis resiko. Yang dapat meminimalisir kesalahan yang dapat berakibat fatal kedepannya.
Model yang baru dikemukakan pada tahun 1988 ini memiliki empat aktivitas, yaitu :
1. Determine objectives
Penentuan tujuan, alternatif dan batasan dalam proses. Pada tahapan inilah dirancang SKPL yang akan menuntun programer dalam pembuatan sistem.
2. Risk analysis
Analisa alternatif terhadap resiko yang mungkin terjadi. Inilah yang membedakan model ini dengan model lainnya. Memeliki sebuah tahapan khusus untuk menganalisis resiko yang dapat terjadi kedepannya.
Risk analysis ini meliputi :
Hal-hal yang mempengaruhi rencana proyek, misalnya pada sistem pemilu ini menggunakan verifikasi retina, maka akan dibutuhkan alat untuk membaca sensor mata.
· Technical Risk
Hal-hal yang mempengaruhi tahap aktual, seperti personil dalam pembuatan sistem ini kurang terlatih dalam tahap tertentu.
· Business Risk
Hal-hal yang mempengaruhi keinginan perusahaan untuk membuat sistem ini, misalnya KPU ingin membuat sistem ini menggunakan verifikasi retina, tetapi karena verifikasi sidik jari sudah ada, KPU menganggap ini sebuah pemborosan dan tidak dibutuhkan lagi.
3. Engineering/develop
Pengembangan produk, desain, koding, implementasi dan testing.
4. Plan next phase
Penentuan rencana-rencana untuk tahap selanjutnya, apakah sudah sesuai atau masih ada yang perlu ditambahkan pada sistem tersebut.
Dan untuk pengembangan sistem pemilu ini kita membutuhkan tim. Yang mana tim ini akan menggunakan konsep chief programing. Karena sistem pemilu ini berdampak akan besar bagi Indonesia. Untuk itu dibutuhkan seseorang yang ahli dalam bidang ini dan akan memimpin untuk pembuatan sistem pemilu elektronik ini.
Apakah sistem pemilu elektronik ini aman ?
Aman ? Aman yang bagaimana ? Jika aman ketika digunakan, tentu saja, sebuah sistem yang baik harus safety. Aman disini yaitu data yang diterima harus sesuai dengan kenyataannya. Hacker sudah banyak bertebaran di dunia. Jika saja, keamanannya biasa biasa saja, kemungkinan besar bisa ditembus hacker, dan data pemilu bisa dimanipulasi. Tapi menurut saya, itu tergantung kepada si pengembang sistem ini. Jika saya yang diberikan amanah, saya tidak akan menggunakan media jaringan untuk sistem ini. Tidak terkoneksi ke internet, agak tidak sembarang orang bisa mengakses ke sistem.
Lalu bagaimana sistem mengirimkan data ke pusat ? Itu tergantung dari sistem yang dikembangkan, bisa saja sistem yang dibuat akan menguploadkan data pemilihan ketika waktu pemilihan sudah selesai, atau data yang di kirimkan secara manual per tps via email, itu tergantung teknis yang digunakan oleh pengembang software dan KPU.
end;
Mungkin ada satu tambahan rumusan masalah lagi, Kenapa saya memilih tema ini ? Saya sering mendengan quote berikut
end;
Mungkin ada satu tambahan rumusan masalah lagi, Kenapa saya memilih tema ini ? Saya sering mendengan quote berikut
Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu! (John F. Kennedy)Karena itu, sebagai mahasiswa IT, hal-hal seperti ini lah yang bisa kita lakukan untuk bangsa dan negara. Janganlah kita hanya bisa mengkritik hal-hal yang terjadi pada negara kita, tetapi seharusnya kita menemukan solusi.

